<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sudarsana.net &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://sudarsana.net/category/renungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sudarsana.net</link>
	<description>A Little Piece of Me Online</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Dec 2011 10:53:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Air ini hanya khusus untuk insinyur!</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/air-ini-hanya-khusus-untuk-insinyur/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/air-ini-hanya-khusus-untuk-insinyur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 10:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Ini sebuah kisah nyata inspiratif, memiliki cara berpikir positif atas segala hal sehingga menghasilkan &#8220;buah&#8221; yang manis di kemudian hari. Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an&#8230;. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini sebuah kisah nyata inspiratif, memiliki cara berpikir positif atas segala hal sehingga menghasilkan &#8220;buah&#8221; yang manis di kemudian hari.</p>
<p>Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an&#8230;.</p>
<p>Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak di depannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.<span id="more-264"></span></p>
<p>Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: &#8220;Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur&#8221; Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.</p>
<p>Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.</p>
<p>Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan,sedangkan mereka insinyur ? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka?</p>
<p>Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan &#8220;SIKAP POSITIF&#8221; . Muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.</p>
<p>Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur.</p>
<p>Kini ia sudah menaklukkan ”rasa sakit”nya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja. Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain. Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.</p>
<p>Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur tersebut datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; &#8220;Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu&#8221;.</p>
<p>Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: &#8220;Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini.&#8221;</p>
<p>Kini sikap positfnya sudah membuahkan hasil, lalu apakah ceritanya sampai di sini?</p>
<p>Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.</p>
<p>Tahukan kamu apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company)perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.</p>
<p>Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.</p>
<p>Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi. Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi hal yang positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/air-ini-hanya-khusus-untuk-insinyur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The law of action and reactions</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/the-law-of-action-and-reactions/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/the-law-of-action-and-reactions/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Apr 2011 04:48:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Dalai Lama: &#8220;Remember, the universe is the echo of our action and our thoughts&#8221;. &#8220;The law of action and reactions is not exclusively for physics. It is also of human relations. If I act with the goodness, I will receive goodness. If I act with evil, I will get evil&#8221; &#8220;What our grandparents told us [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalai Lama: &#8220;Remember, the universe is the echo of our action and our thoughts&#8221;.</p>
<p>&#8220;The law of action and reactions is not exclusively for physics. It is also of human relations. If I act with the goodness, I will receive goodness. If I act with evil, I will get evil&#8221;</p>
<p>&#8220;What our grandparents told us is pure truth, You will always have what your desire for others. Being happy is not a matter of destiny. It is a matter of options&#8221;.<span id="more-256"></span></p>
<p>Finally he said:</p>
<p>&#8220;Take care of your thoughts because they will become words.</p>
<p>Take care of your words because they will become actions.</p>
<p>Take care of your actions because they will become habits.</p>
<p>Take care of your habits because they will form your character.</p>
<p>Take care of your character because they will become your destiny. and your destiny will be your life&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/the-law-of-action-and-reactions/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>EMPATI</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/empati/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/empati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 02:52:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Andy F. Noya]]></category>
		<category><![CDATA[EMPATI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak. Sembari makan saya mulai mengamati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.</p>
<p>Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.<span id="more-252"></span></p>
<p>Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.</p>
<p>Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.</p>
<p>Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.</p>
<p>Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah.</p>
<p>Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.</p>
<p>Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.</p>
<p>Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya.</p>
<p>Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah keluar negeri.</p>
<p>Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.</p>
<p>Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.</p>
<p>Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu.</p>
<p>Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.</p>
<p>Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang.</p>
<p>Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.</p>
<p>Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku &#8220;Chiken Soup&#8221;, saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.</p>
<p>Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata &#8220;terima kasih&#8221; saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata &#8220;terima kasih&#8221; merupakan &#8220;magic words&#8221; yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata &#8220;tolong&#8221; ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.</p>
<p>Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya.</p>
<p>Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. &#8220;Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?&#8221;</p>
<p>Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuahtulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.</p>
<p>Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain.</p>
<p>Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.</p>
<p>Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar,kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.</p>
<p>Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.</p>
<p>Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu.</p>
<p>Mulailah sekarang juga.</p>
<p>( by Andy F. Noya ).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/empati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan mengambil keputusan apapun disaat emosi!</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/jangan-mengambil-keputusan-apapun-disaat-emosi/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/jangan-mengambil-keputusan-apapun-disaat-emosi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 03:22:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan, di sebuah dusun tinggallah keluarga petani yang memiliki seorang anak masih bayi. Keluarga itu memelihara seekor anjing yang dipelihara sejak masih kecil. Anjing itu pandai, setia, dan rajin membantu si petani. Dia bisa menjaga rumah bila majikannya pergi, mengusir burung-burung di sawah dan menangkap tikus yang berkeliaran di sekitar rumah mereka. Si petani dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dikisahkan, di sebuah dusun tinggallah keluarga petani yang memiliki seorang anak masih bayi. Keluarga itu memelihara seekor anjing yang dipelihara sejak masih kecil. Anjing itu pandai, setia, dan rajin membantu si petani. Dia bisa menjaga rumah bila majikannya pergi, mengusir burung-burung di sawah dan menangkap tikus yang berkeliaran di sekitar rumah mereka. Si petani dan istrinya sangat menyayangi anjing tersebut.<span id="more-230"></span></p>
<p>Suatu hari, si petani harus menjual hasil panennya ke kota. Karena beban berat yang harus di bawanya, dia meminta istrinya ikut serta untuk membantu, agar secepatnya menyelesaikan penjualan dan sesegera mungkin pulang ke rumah. Si bayi di tinggal tertidur lelap di ayunan dan dipercayakan di bawah penjagaan anjing mereka.</p>
<p>Menjelang malam setiba di dekat rumah, si anjing berlari menyongsong kedatangan majikannya dengan menyalak keras berulang-ulang, melompat-lompat dan berputar-putar, tidak seperti biasanya. Suami istri itu pun heran dan merasa tidak tenang menyaksikan ulah si anjing yang tidak biasa.</p>
<p>Dan Betapa kagetnya mereka, setelah berhasil menenangkan anjingnya…astaga, ternyata moncong si anjing berlumuran darah segar. “Lihat pak! Moncong anjing kita berlumuran darah! Pasti telah terjadi sesuatu pada anak kita!” teriak si ibu histeris, ketakutan, dan mulai terisak menangis.</p>
<p>&#8220;Ha…benar! Kurang ajar kau anjing! Kau apakan anakku? Pasti telah kau makan!” si petani ikut berteriak panik.Dengan penuh kemarahan, si petani spontan meraih sebuah kayu dan secepat kilat memukuli si anjing itu dan mengenai bagian kepalanya. Anjing itu terdiam sejenak. Tak lama dia menggelepar kesakitan, memekik perlahan dan dari matanya tampak tetesan airmata, sebelum kemudian ia terdiam untuk selamanya. Bergegas kedua suami istri itu pun berlari masuk ke dalam rumah.</p>
<p>Begitu tiba di kamar, tampak anak mereka masih tertidur lelap di ayunan dengan damai. Sedangkan di bawah ayunan tergeletak bangkai seekor ular besar dengan darah berceceran bekas gigitan. Mereka pun segera sadar bahwa darah yang menempel di moncong anjing tadi adalah darah ular yang hendak memangsa anak mereka. Perasaan sesal segera mendera. Kesalahan fatal telah mereka lakukan. Emosi kemarahan yang tidak terkendali telah membunuh anjing setia yg mereka sayangi. Tentu, penyesalan mereka tidak akan membuat anjing kesayangan itu hidup kembali.</p>
<p>Sungguh mengenaskan. Gara-gara emosi dan kemarahan yang membabi buta, seekor anjing setia yang telah membantu dan membela majikannya, harus mati secara tragis. Saya rasa demikian pula di kehidupan ini. Begitu banyak permasalahan, pertikaian, perselisihan bahkan peperangan, muncul dari emosi yang tidak terkontrol. Karena itu, saya sangat setuju dengan kata-kata: ”Jangan mengambil keputusan apapun disaat emosi sedang melanda.” Sebab, bila itu yang dilakukan, bisa fatal akibatnya. Sungguh, kita butuh belajar dan melatih diri agar disaat emosi, kita mampu mengendalikan diri secara sabar dan bijak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/jangan-mengambil-keputusan-apapun-disaat-emosi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Life Is by Mother Teresa</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/life-is-by-mother-teresa/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/life-is-by-mother-teresa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Dec 2010 03:36:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Life Is by Mother Teresa]]></category>
		<category><![CDATA[Mother Teresa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Life is an opportunity, benefit from it. Life is beauty, admire it. Life is a dream, realize it. Life is a challenge, meet it. Life is a duty, complete it. Life is a game, play it. Life is a promise, fulfill it. Life is sorrow, overcome it. Life is a song, sing it. Life is [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Life is an opportunity, benefit from it.</p>
<p>Life is beauty, admire it.</p>
<p>Life is a dream, realize it.</p>
<p>Life is a challenge, meet it.</p>
<p>Life is a duty, complete it.</p>
<p>Life is a game, play it.</p>
<p>Life is a promise, fulfill it.</p>
<p>Life is sorrow, overcome it.</p>
<p>Life is a song, sing it.</p>
<p>Life is a struggle, accept it.</p>
<p>Life is a tragedy, confront it.</p>
<p>Life is an adventure, dare it.</p>
<p>Life is luck, make it.</p>
<p>Life is too precious, do not destroy it.</p>
<p>Life is life, fight for it.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/life-is-by-mother-teresa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unconditional Love</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/unconditional-love/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/unconditional-love/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Dec 2010 03:28:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja. Hari ini, 27 Agustus adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.</p>
<p>Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.<span id="more-205"></span></p>
<p>Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal! Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.</p>
<p>Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. &#8220;Ia sungguh cantik&#8221; kataku dalam hati, &#8220;Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik&#8221;. Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.</p>
<p>Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.</p>
<p>14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku.</p>
<p><em>Hmm. aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.</em></p>
<p>6 September 2001, Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain hati.</p>
<p><em>Jantungku serasa mau berhenti&#8230;</em></p>
<p>23 Oktober 2001, Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui.</p>
<p><em>Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5 tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama 4 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan Melly.</em></p>
<p>4 Januari 2002, Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal daripadaMu.</p>
<p><em>Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah mengkhianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat itu.</em></p>
<p>14 Februari 2002, Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus kuambil.</p>
<p>14 Februari 2003, Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!</p>
<p>18 Juli 2005, Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.</p>
<p>7 April 2006, Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.</p>
<p><em>Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya dengan susah payah.</em></p>
<p>15 November 2007, Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk Vincent.</p>
<p><em>Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga.</em></p>
<p>Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun.</p>
<p>&#8220;Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun.&#8221; (ts)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/unconditional-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menari ditengah hujan</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/menari-ditengah-hujan/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/menari-ditengah-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Dec 2010 05:15:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi. Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Aku merasa kasihan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.</p>
<p>Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan untuk melakukannya sendiri.<span id="more-199"></span></p>
<p>Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.</p>
<p>Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Aku sangat terkejut dan berkata, “Dan Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?” Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, “Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia, ‘kan?”</p>
<p>Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku masih tetap merinding, “Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hidupku.”</p>
<p><strong>Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.</strong></p>
<p>Bagiku pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting: <strong>Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.. “Hidup bukanlah perjuangan menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah hujan.”</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/menari-ditengah-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bakso Khalifatullah</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/bakso-khalifatullah/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/bakso-khalifatullah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 00:51:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Emha Ainun Nadjib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti. “Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang. “Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.</p>
<p>“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.<span id="more-196"></span></p>
<p>“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.</p>
<p>“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”</p>
<p>Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”</p>
<p>“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.</p>
<p>“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.</p>
<p>Aduh gawat juga Pak Patul ini.</p>
<p>“Maksudnya?”, saya mengejar lagi.</p>
<p>“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.</p>
<p>Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.</p>
<p>Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.</p>
<p>Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.</p>
<p>Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya.</p>
<p>Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.</p>
<p>Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.</p>
<p>30 th silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada Penjual cendhol yang marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan karena “kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang memerlukannya?”</p>
<p>Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar. Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.</p>
<p>“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”</p>
<p>“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”</p>
<p>“Berarti saya hutang?”</p>
<p>“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”.</p>
<p>Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!</p>
<p>Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah toko kemudian satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya. Ketika datang saya protes: “Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong….”</p>
<p>Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk: “Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente sama Tuhan….”</p>
<p>Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece. Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi. Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun.</p>
<p>Bakso Khlifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan.</p>
<p>Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen Irjen Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong, belum Gubernur Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol. Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama.</p>
<p>Emha Ainun Nadjib Regard, ida.s</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/bakso-khalifatullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Andi F. Noya (KickAndy) keluar dari Metro TV?</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/mengapa-andi-f-noya-kickandy-keluar-dari-metro-tv/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/mengapa-andi-f-noya-kickandy-keluar-dari-metro-tv/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 01:14:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/renungan/mengapa-andi-f-noya-kickandy-keluar-dari-metro-tv/</guid>
		<description><![CDATA[Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena Ê½pecah kongsiÊ¼ dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan Ê½powerÊ¼ yang luar biasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena Ê½pecah kongsiÊ¼ dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan Ê½powerÊ¼ yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.</p>
<p>Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah.. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.</p>
<p><span id="more-85"></span></p>
<p>Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Ê½Ê¼Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.Ê¼Ê¼</p>
<p>Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.</p>
<p>Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain.. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya Ê½dipindahkanÊ¼ oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.</p>
<p>Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu..</p>
<p>Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari Ê½kejuÊ¼ itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti Ê½lentera jiwaÊ¼ saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.</p>
<p>Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Ê½Lentera JiwaÊ¼ yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.</p>
<p>Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa Ê½lentera jiwanyaÊ¼ ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.</p>
<p>Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang &#8212; dan membuat mereka tidak bahagia &#8212; adalah karena mengikuti keinginan orangtua.</p>
<p>Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki.. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Ê½Ê¼Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini,Ê¼Ê¼ ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.</p>
<p>Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.</p>
<p>Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.</p>
<p>Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.</p>
<p>Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Ê½Ê¼Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya,Ê¼Ê¼ ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji.. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Ê½Ê¼Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya,Ê¼Ê¼ katanya.</p>
<p>Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi.. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/mengapa-andi-f-noya-kickandy-keluar-dari-metro-tv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Don&#8217;t give up&#8230;..</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/dont-give-up/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/dont-give-up/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 03:10:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/renungan/dont-give-up/</guid>
		<description><![CDATA[One day I decided to quit&#8230; I quit my job, my relationship, my spirituality&#8230; I wanted to quit my life. I went to the woods to have one last talk with God. &#8216;God&#8217;, I asked, &#8216;Can you give me one good reason not to quit?&#8217; His answer surprised me&#8230; &#8216;Look around&#8217;, He said. &#8216;Do you [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>One day I decided to quit&#8230;<br />
I quit my job, my relationship, my spirituality&#8230; I wanted to quit my life.<br />
I went to the woods to have one last talk with God.<br />
&#8216;God&#8217;, I asked, &#8216;Can you give me one good reason not to quit?&#8217;<br />
His answer surprised me&#8230;<br />
&#8216;Look around&#8217;, He said. &#8216;Do you see the fern and the bamboo?&#8217;<br />
&#8216;Yes&#8217;, I replied.<br />
&#8216;When I planted the fern and the bamboo seeds, I took very good care of them.<br />
I gave them light.<br />
I gave them water.<br />
The fern quickly grew from the earth.<br />
Its brilliant green covered the floor.<br />
Yet nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo.<br />
In the second year the Fern grew more vibrant and plentiful.<br />
And again, nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo. He said.</p>
<p><span id="more-79"></span></p>
<p>&#8216;In year three there was still nothing from the bamboo seed.<br />
But I would not quit.<br />
In year four, again, there was nothing from the bamboo seed. I would not quit.&#8217; He said.</p>
<p>&#8216;Then in the fifth year a tiny sprout emerged from the earth. Compared to the fern it was seemingly small and insignificant&#8230;But just 6 months later the bamboo rose to over 100 feet tall. It had spent the five years growing roots. Those roots made it strong and gave it what it needed to survive.</p>
<p>I would not give any of my creations a challenge it could not handle.<br />
&#8216;He asked me. &#8216;Did you know, my child, that all this time you have been struggling, you have actually been growing roots&#8217;.<br />
&#8216;I would not quit on the bamboo.<br />
I will never quit on you.&#8217;<br />
&#8216;Don&#8217;t compare yourself to others.&#8217; He said.<br />
&#8216;The bamboo had a different Purpose than the fern. Yet they both make the forest beautiful.&#8217;<br />
&#8216;Your time will come&#8217;, God said to me.<br />
&#8216;You will rise high&#8217;<br />
&#8216;How high should I rise?&#8217; I asked.<br />
&#8216;How high will the bamboo rise?&#8217; He asked in return.<br />
&#8216;As high as it can?&#8217; I questioned.<br />
&#8216;Yes.&#8217; He said, &#8216;Give me glory by rising as high as you can.&#8217;<br />
I left the forest and brought back this story.<br />
I hope these words can help you see that God will never give up on you.<br />
Never, Never, Never Give up.<br />
For the Prayer is not an option but an opportunity.<br />
Don&#8217;t tell the Lord how big the problem is,<br />
tell the problem how Great the Lord is!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/dont-give-up/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah orang yang akan mendoakan kita?</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/adakah-orang-yang-akan-mendoakan-kita/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/adakah-orang-yang-akan-mendoakan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 09:51:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/renungan/adakah-orang-yang-akan-mendoakan-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. Sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya. Malaikat memulai pembicaraan, &#8220;Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. Sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.</p>
<p>Malaikat memulai pembicaraan, &#8220;Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!</p>
<p>&#8220;Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang .. . &#8221; kata si pengusaha ini dengan yakinnya.</p>
<p>Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.</p>
<p><span id="more-77"></span></p>
<p>Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, &#8220;Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit&#8221;.</p>
<p>Dengan lembut si Malaikat berkata, &#8220;Anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu&#8221;.</p>
<p>Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka&#8221;.</p>
<p>Kata Malaikat, &#8220;Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu&#8221;.</p>
<p>Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, &#8221; Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkh ian ati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri.&#8221;</p>
<p>Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat&#8221;.</p>
<p>Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahwa dia bukanlah suami yang baik. Dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.</p>
<p>Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini,penyesalan yang luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat ! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang !</p>
<p>Dengan setengah bergumam dia bertanya,&#8221;Apakah d ian tara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?&#8221;</p>
<p>Jawab si Malaikat, &#8221; Ada beberapa yang berdoa buatmu.Tapi mereka tidak Tulus. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik. Bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah&#8221;. Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.</p>
<p>Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.</p>
<p>Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata,&#8221;Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu ! ! Kau tidak jadi meninggal,karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00&#8243;.</p>
<p>Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.</p>
<p>Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan. &#8220;Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhat ian pemerintah dan investor luar negeri. &#8221;</p>
<p>&#8220;Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalauseorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu. &#8221;</p>
<p>Doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas. Tidak punya waktu. Tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.</p>
<p>Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.</p>
<p>Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/adakah-orang-yang-akan-mendoakan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arti sebuah kata</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/arti-sebuah-kata/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/arti-sebuah-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 05:26:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/renungan/arti-sebuah-kata/</guid>
		<description><![CDATA[Sebaiknya kita semua mulai mengendalikan Kata-kata yang keluar dari mulut kita dengan Kata-Kata yang Positif dan Baik. Setelah mendengarkan info tentang pengaruh Kata-Kata Negatif terhadap Air ang ditulis dalam buku &#8220;The Hidden Messages in Water&#8221; karya Masaru Emoto dan pada halaman 31 buku tersebut disebutkan tentang banyaknya orang yg melakukan percobaan, sayapun tertarik untuk melakukannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebaiknya kita semua mulai mengendalikan Kata-kata yang keluar dari mulut kita dengan Kata-Kata yang Positif dan Baik.</p>
<p>Setelah mendengarkan info tentang pengaruh Kata-Kata Negatif terhadap Air ang ditulis dalam buku &#8220;The Hidden Messages in Water&#8221; karya Masaru Emoto dan pada halaman 31 buku tersebut disebutkan tentang banyaknya orang yg melakukan percobaan, sayapun tertarik untuk melakukannya sbb:</p>
<ol>
<li>Tempatkan Nasi sisa yg sdh didiamkan semalaman kedalam 2 toples dgn jumlah yg sama, kemudian ditutup rapat.</li>
<li>Masing-masing toples di tempelin label yg berisi kata2 sbb:</li>
<li>Toples A : &#8220;Kamu Pintar, Cerdas, Cantik, Baik, Rajin, Sabar, Aku Sayang Padamu, Aku Senang Sekali Melihatmu, Aku Ingin Selalu di dekatmu, I LOVE YOU, Terima Kasih&#8221;.</li>
<li>Toples B : &#8220;Kamu Bodoh, Goblok, Jelek, Jahat, Malas, Pemarah, Aku Benci Melihatmu, Aku Sebel Tidak mau dekat dekat kamu&#8221;</li>
<li>Botol 2 ini saya letakkan terpisah dan pada tempat yg sering dilihat, saya pesan pada istri, anak, dan pembantu untuk membaca label pada botol tersebut setiap kali melihat botol2 tersebut.</li>
<li>Dan inilah yang terjadi pada nasi tersebut setelah 1 mingg kemudian :</li>
</ol>
<p><span id="more-73"></span></p>
<p>Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dgn bau yg tidak sedap..</p>
<p>Sedangkan Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harum seperti ragi.</p>
<p>Nah Silahkan teman-teman mencobanya sendiri.</p>
<p>Kalau di buku di katakan ada yg mencoba dgn tiga botol dimana botol ketiga tidak di beri label apa2 alias diabaikan / tidak diperdulikan, dan ternyata nasi dlm botol yg diabaikan membusuk jauh lebih cepat dibandingkan botol yg dipapar kata &#8221; Kamu Bodoh&#8221;.</p>
<p>Bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita, pasangan hidup kita, rekan-rekan kerja kita, dan orang-orang disekeliling kita, bahkan binatang dan tumbuhan disekeliling kita pun akan merasakan efek yang ditimbulkan dari getaran-getaran yg berasal dari pikiran, dan ucapan yang kita lontarkan setiap saat kepada mereka.</p>
<p>Maka sebaiknya selalulah sadar dan bijaksana dalam memillih kata-kata yg akan keluar dari mulut kita, demikian juga kendalikanlah pikiran-pikiran yg timbul dalam batin kita.</p>
<p>Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/arti-sebuah-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berani mengambil resiko dalam hidup</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/berani-mengambil-resiko-dalam-hidup/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/berani-mengambil-resiko-dalam-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 May 2008 12:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/renungan/berani-mengambil-resiko-dalam-hidup/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Hidup Jangan Tertidur!&#8221; Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan &#8221;tertidur&#8221;. Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan &#8221;tertidur&#8221;. Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Hidup Jangan Tertidur!&#8221;</p>
<p>Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan &#8221;tertidur&#8221;. Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan &#8221;tertidur&#8221;.</p>
<p>Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu, tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.</p>
<p>Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tidak sadar!</p>
<p><span id="more-71"></span></p>
<p>Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya adalah &#8221;rahmat terselubung&#8221; karena dapat membuat kita bangun dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit. Anda baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol Anda mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.</p>
<p>Anda baru sadar nikmatnya bekerja kalau Anda di-PHK. Seorang wanita karier baru menyadari bahwa keluarga jauh lebih penting setelah anaknya terkena narkoba. Seorang sopir taksi pernah bercerita bahwa ia baru menyadari bahayanya judi setelah hartanya habis.</p>
<p>Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. Bayangkan kalau Anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang berlangsung seru ketika tiba-tiba listrik padam. Petugas bioskop berkata,</p>
<p>&#8221;Silakan Anda pulang, pertunjukan sudah selesai!&#8221;</p>
<p>Anda protes, bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. Tapi, si penjaga hanya berkata tegas,</p>
<p>&#8221;Pertunjukan sudah selesai, listriknya tidak akan pernah hidup kembali.&#8221;</p>
<p>Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat dekat kita sering menyadarkan kita pada arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.</p>
<p>Hidup ini seringkali menipu dan meninabobokan orang. Untuk menjadi bangun kita harus sadar mengenai tiga hal, yaitu siapa diri kita, darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.</p>
<p>Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin,</p>
<p>&#8221;Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalam an spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi.&#8221;</p>
<p>Manusia bukanlah &#8221;makhluk bumi&#8221; melainkan &#8221;makhluk langit.&#8221; Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan &#8221;rumah&#8221; untuk mencari &#8221;rumah&#8221; yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.</p>
<p>Coba Anda resapi paragraf di atas dalam-dalam. Badan kita akan mati, tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau Anda menyadari hal ini, Anda tidak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya.</p>
<p>Bila Anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup!</p>
<p>Buat apa sibuk mengumpul-ngumpulkan kekayaan &#8211; apalagi dengan menyalahgunakan jabatan &#8211; kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati selama-lamanya. Apalagi Anda sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi.</p>
<p>Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang pahit tersebut agar kita sadar? Jawabnya: ya! Tapi kalau Anda merasa cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah:</p>
<p>Belajarlah MENDENGARKAN.</p>
<p>Dengarlah dan belajarlah dari pengalaman orang lain. Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya bangun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/berani-mengambil-resiko-dalam-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Delicious Cake</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/delicious-cake/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/delicious-cake/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 02:30:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/renungan/delicious-cake/</guid>
		<description><![CDATA[Kadang kita bertanya dalam hati &#38; menyalahkan Tuhan, &#8220;apa yg telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua?&#8221; atau &#8220;kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya?&#8221; Here is a wonderful explanation. .. Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kadang kita bertanya dalam hati &amp; menyalahkan Tuhan, &#8220;apa yg telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua?&#8221; atau &#8220;kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya?&#8221;</p>
<p>Here is a wonderful explanation. ..</p>
<p>Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan.</p>
<p>Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.</p>
<p>Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, &#8220;Tentu saja, I love your cake.&#8221;</p>
<p><span id="more-66"></span></p>
<p>&#8220;Nih, cicipi mentega ini,&#8221; kata Ibunya menawarkan.<br />
&#8220;Yaiks,&#8221; ujar anaknya.<br />
&#8220;Bagaimana dgn telur mentah?&#8221;<br />
&#8220;You&#8217;re kidding me, Mom.&#8221;<br />
&#8220;Mau coba tepung terigu atau baking soda?&#8221;<br />
&#8220;Mom, semua itu menjijikkan.&#8221;</p>
<p>Lalu Ibunya menjawab, &#8220;ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat dan dirasakan satu per satu.</p>
<p>Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, mulai pencampuran bahan kue sampai kue masuk oven, akan menjadi kue yang enak.&#8221;</p>
<p>Tuhan bekerja dengan cara yang sama.</p>
<p>Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan.</p>
<p>Tapi Tuhan tahu, jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dgn rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya.</p>
<p>Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita.</p>
<p>Tuhan teramat sangat mencintai kita semua. Dia mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi dan hembusan udara yang mengalir setiap saat. Tanpa diminta, Dia berikan semuanya dengan sukarela.</p>
<p>Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.</p>
<p>Jika anda merasa nilai lebih dalam dengan artikel ini, kirimkan pada teman-teman yang anda kasihi&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/delicious-cake/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pohon apel besar dan anak lelaki</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/pohon-apel-besar-dan-anak-lelaki/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/pohon-apel-besar-dan-anak-lelaki/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 01:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/renungan/pohon-apel-besar-dan-anak-lelaki/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu . Waktu terus berlalu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.</p>
<p>Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu . Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.</p>
<p>Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih . &#8220;Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,&#8221; pinta pohon apel itu. &#8220;Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,&#8221; jawab anak lelaki itu.&#8221;Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.&#8221;</p>
<p><span id="more-54"></span></p>
<p>Pohon apel itu menyahut, &#8220;Duh, maaf aku pun tak punya uang&#8230; tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.&#8221; Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.</p>
<p>Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang . &#8220;Ayo bermain-main denganku lagi,&#8221; kata pohon apel. &#8220;Aku tak punya waktu,&#8221; jawab anak lelaki itu. &#8220;Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal . Maukah kau menolongku?&#8221; Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah.</p>
<p>Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,&#8221; kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.</p>
<p>Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.&#8221;Ayo bermain-main lagi denganku,&#8221; kata pohon apel.&#8221;Aku sedih ,&#8221; kata anak lelaki itu.&#8221;Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.&#8221;</p>
<p>Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.</p>
<p>Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. &#8220;Maaf anakku,&#8221; kata pohon apel itu. &#8220;Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.&#8221; &#8220;Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,&#8221; jawab anak lelaki itu.</p>
<p>&#8220;Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat ,&#8221; kata pohon apel.&#8221;Sekarang , aku sudah terlalu tua untuk itu ,&#8221; jawab anak lelaki itu.&#8221;Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu . Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,&#8221; kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.</p>
<p>&#8220;Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang ,&#8221; kata anak lelaki .<br />
&#8220;Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu .&#8221; &#8220;Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.&#8221; Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.</p>
<p>Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.</p>
<p>Pohon apel itu adalah orang tua kita.<br />
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.</p>
<p>Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan.</p>
<p>Dan,Â  yang terpenting: cintailah orang tua kita.<br />
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/pohon-apel-besar-dan-anak-lelaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Besarnya Penghargaan</title>
		<link>http://sudarsana.net/renungan/besarnya-penghargaan/</link>
		<comments>http://sudarsana.net/renungan/besarnya-penghargaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 11:35:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudarsana.net/renungan/besarnya-penghargaan/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya. Ia sangat terkejut melihat seekor anjing datang ke samping tokonya. Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing itu kembali lagi. Maka, ia menghampiri anjing itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu. Ia mengambil catatan itu dan membacanya, &#8220;Tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya.<br />
Ia sangat terkejut melihat seekor anjing datang ke samping tokonya.<br />
Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing itu kembali lagi.<br />
Maka, ia menghampiri anjing itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu.<br />
Ia mengambil catatan itu dan membacanya,<br />
&#8220;Tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada di mulut anjing ini.&#8221;</p>
<p><span id="more-3"></span></p>
<p>Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar di sana .<br />
Segera ia mengambil uang itu, kemudian ia memasukkan sosis dan kaki domba ke dalam kantung plastik<br />
dan diletakkan kembali di mulut anjing itu.</p>
<p>Si penjual daging sangat terkesan.</p>
<p>Kebetulan saat itu adalah waktu tutup tokonya, ia menutup tokonya dan berjalan mengikuti si anjing.<br />
Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan dan sampai ke tempat penyeberangan jalan.<br />
Anjing itu meletakkan kantung plastiknya, melompat dan menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu dengan sabar dengan kantung plastik di mulut, sambil menunggu lampu penyeberang berwarna hijau.<br />
Setelah lampu menjadi hijau, ia menyeberang sementara si penjual daging mengikutinya.<br />
Anjing tsb kemudian sampai ke perhentian bus, dan mulai melihat &#8220;Papan informasi jam perjalanan &#8220;.</p>
<p>Si penjual daging terkagum-kagum melihatnya.</p>
<p>Si anjing melihat &#8220;Papan informasi jam perjalanan &#8221; dan kemudian duduk disalah satu bangku yang disediakan.<br />
Sebuah bus datang, si anjing menghampirinya dan melihat nomor bus dan kemudian kembali ke tempat duduknya.<br />
Bus lain datang.<br />
Sekali lagi si anjing menghampiri dan melihat nomor busnya.<br />
Setelah melihat bahwa bus tersebut adalah bus yang benar, si anjing naik.</p>
<p>Si penjual daging, dengan kekagumannya mengikuti anjing itu dan naik ke bus tersebut.<br />
Bus berjalan meninggalkan kota, menuju ke pinggiran kota.<br />
Si anjing melihat pemandangan sekitar.<br />
Akhirnya ia bangun dan bergerak ke depan bus, ia berdiri dengan 2 kakinya dan menekan tombol agar bus berhenti.</p>
<p>Kemudian ia keluar, kantung plastik masih tergantung di mulutnya.<br />
Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan sambil dikuti si penjual daging.<br />
Si anjing berhenti pada suatu rumah, ia berjalan menyusuri jalan kecil dan meletakkan kantung plastik pada salah satu anak tangga.<br />
Kemudian, ia mundur, berlari dan membenturkan dirinya ke pintu.<br />
Ia mundur, dan kembali membenturkan dirinya ke pintu rumah tsb.<br />
Tidak ada jawaban dari dalam rumah, jadi si anjing kembali melalui jalan kecil, melompati tembok kecil dan berjalan sepanjang batas kebun tersebut.<br />
Ia menghampiri jendela dan membenturkan kepalanya beberapa kali, berjalan mundur, melompat balik dan menunggu di pintu.</p>
<p>Si penjual daging melihat seorang pria tinggi besar membuka pintu<br />
dan mulai menyiksa anjing tersebut, menendangnya, memukulinya, serta menyumpahinya.<br />
Si penjual daging berlari untuk menghentikan pria tersebut,<br />
&#8220;Apa yang kau lakukan ..?<br />
Anjing ini adalah anjing yg jenius.<br />
Ia bisa masuk televisi untuk kejeniusannya.&#8221;</p>
<p>Pria itu menjawab, &#8220;Kau katakan anjing ini pintar &#8230;?<br />
Dalam minggu ini sudah dua kali anjing bodoh ini lupa membawa kuncinya ..!&#8221;</p>
<p>Mungkin hal serupa pernah terjadi dalam kehidupan Anda.<br />
Sesuatu yang bagi Anda kurang memuaskan, mungkin adalah sesuatu yang sangat luar biasa bagi orang lain.<br />
Yang membedakan hanyalah seberapa besar penghargaan kita.</p>
<p>Pemilik anjing tidak menghargai kemampuan si anjing dan hanya terfokus pada kesalahannya semata,<br />
sehingga menganggapnya anjing yang bodoh.</p>
<p>Sebaliknya, sang pemilik toko menganggap anjing tersebut luar biasa pintarnya karena mampu berbelanja sendirian.</p>
<p>Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa setiap harinya kita menghadapi pilihan yang sama.<br />
Kita punya dua pilihan dalam menghadapi hidup ini, apakah hendak mengeluh atas berbagai hal yang kurang memuaskan,<br />
atau bersyukur atas berbagai karunia yang telah kita terima.</p>
<p>Tuhan telah mengkaruniai Anda dengan 86.400 detik per hari.<br />
Sudah adakah yang Anda gunakan untuk mengucap syukur?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudarsana.net/renungan/besarnya-penghargaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

